PANTAI KUTA
Pantai Kuta
Pantai Kuta Bali terletak di bagian selatan Pulau Bali. Terletak di jarak 1,5 km dari Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Pantai Kuta memiliki pantai sepanjang kurang lebih 1.500 meter. Dulunya, Pantai Kuta dan Kuta adalah desa nelayan yang keberadaannya sangat sepi. Selain itu, Pantai Kuta juga digunakan sebagai pelabuhan komersial dan maritim oleh kerajaan Bali. Sekarang telah berubah menjadi kota kecil internasional yang dilengkapi dengan fasilitas dan infrastruktur pendukung pariwisata.
Pantai berpasir putih sepanjang sekitar 4 km sangat disukai oleh wisatawan untuk berjemur, menikmati matahari terbenam dan berenang atau berselancar. Titik khusus dari pantai Kuta adalah habitat kura-kura yang ditemukan di sana. Dulunya Pantai Kuta adalah tempat hidup penyu, tetapi sekarang di ambang kepunahan, maka ada pemeliharaan penyu di Kuta. Hewan ini dilindungi oleh undang-undang pemerintah dan hukum internasional oleh World Conservation Union (IUCN). Jika beruntung Anda bisa melihat aktivitas bayi penyu melepaskan atau menetas ke laut.
Sejarah
Sebelum menjadi objek wisata, Kuta merupakan sebuah pelabuhan dagang tempat produk lokal diperdagangkan kepada pembeli dari luar Bali. Pada abad ke-19, Mads Lange, seorang pedagang Denmark, datang ke Bali dan mendirikan basis perdagangan di Kuta. Ia ahli bernegosiasi sehingga dirinya terkenal di antara raja-raja Bali dan Belanda.[1]
Selanjutnya, Hugh Mahbett menerbitkan sebuah buku berjudul “Praise to Kuta” yang berisi ajakan kepada masyarakat setempat untuk menyiapkan fasilitas akomodasi wisata. Tujuannya untuk mengantisipasi ledakan wisatawan yang berkunjung ke Bali. Buku itu kemudian menginspirasi banyak orang untuk membangun fasilitas wisata seperti penginapan, restoran dan tempat hiburan.[1]
Pariwisata
[sunting | sunting sumber]
Pantai Kuta terkenal memiliki ombak yang bagus untuk olahraga selancar (surfing),[2] terutama bagi peselancar pemula. Selain keindahannya, wisata pantai Kuta juga menawarkan berbagai jenis hiburan seperti bar, restoran, pertokoan, restoran, hotel, dan toko-toko kelontong, serta pedagang kaki lima di sepanjang pantai menuju Pantai Legian.[butuh rujukan]
Akses
[sunting | sunting sumber]Pantai Kuta dapat ditempuh dengan waktu sekitar 10 menit dari Bandara Internasional Ngurah Rai dalam kondisi jalanan lancar.[3]
Fasilitas
[sunting | sunting sumber]Sebagai tempat wisata pantai, pantai Kuta dilengkapi lahan parkir di sepanjang pantai, kamar mandi umum, payung pantai, kios makanan dan minuman, serta tempat penyewaan papan selancar.[butuh rujukan]
Permasalahan Sampah
[sunting | sunting sumber]

Setiap tahun, pengunjung pantai Kuta kerap mengeluhkan masalah kebersihan dan tumpukan sampah di pantai Kuta, terutama saat musim liburan. Hal tersebut mempengaruhi penilaian wisatawan domestik maupun manca negara terhadap citra pantai Kuta.[4][5] Selain disebabkan aktivitas pengunjung dan penjual di sepanjang pantai Kuta, sampah-sampah di pantai Kuta juga diakibatkan hembusan angin barat setiap tahunnya yang membawa sampah dari muara-muara sungai terdekat ke pantai.[6][7]
Permasalahan ini berusaha diatasi oleh prajuru Desa Adat Kuta dan anggota Badan Penyelamat Wisata Tirta (Balawista) yang merupakan mitra dari Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kabupaten Badung. Setiap pagi, Dinas Kebersihan dan Pertamanan juga aktif mengoperasikan mobil loader untuk memunguti sampah di pagi hari.[6][7] Permasalahan ini juga memperoleh perhatian utama dari TNI, berbagai organisasi masyarakat, dan industri-industri pariwisata yang berada di wilayah Pantai Kuta.[8][9][10][11][12][13]


.jpeg)
Komentar
Posting Komentar